Langsung ke konten utama

Mahasiswa.

Suatu saat nanti, aku harap ada jalan…

 
foto diambil dari http://www.penajampaserutara.com 

Mahasiswa ! Hidup Mahasiswa !

Seakan jargon itu mengiang keras di kepala ku. Kenapa mahasiswa ? kenapa disebut “hidup” para mahasiswa ?

Apa istimewa nya jadi mahasiswa ?

Apa yang sebenarnya kita inginkan ? mengapa kita menginginkannya ?

50 tahun yang lalu, para mahasiswa tahun 1960-an melakukan aksi melawan pemerintahan Soekarno dengan memboikot ruang-ruang publik Jakarta dan sekitarnya.

Lebih dari 15 tahun yang lalu, para mahasiswa tahun 1998 melakukan demonstrasi besar-besaran diseluruh Indonesia, walaupun entah sadar atau tidak sadar banyak pihak brengsek yang menunggangi momentum itu. Banyak orang kena batunya. Rasisme,  Penjarahan, Pemerkosaan, dsb.

Akibatnya, masalah datang menghadang sekaligus. Masalah finansial, masalah kepercayaan publik terhadap aparat yang bobrok, belum lagi masalah dengan negara tetangga seperti singapura, Malaysia, dan negara-negara yang punya hubungan diplomatik kuat dengan Indonesia, dsb.

Aksi mahasiswa pada saat 50 tahun yang lalu, adalah manusia-manusia yang menggulingkan pemerintahan Soekarno yang saat itu dinilai menyimpang.

Ironis nya, banyak dari mereka yang saat itu melakukan perlawanan justru menjadi pengganti tirani yang dulu mereka sebut “rezim korup” 30 tahun kemudian.

Atas nama keadilan, muncul-lah mahasiswa tahun 1997-1998 yang merasa sudah waktunya “rezim korup” ini dijatuhkan demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Lebih baik, setidaknya…

Para mahasiswa saat itu mungkin sudah mampu membaca hegemoni para aparatur pemerintahan rezim Soeharto selama 32 tahun.

Lucunya, para mahasiswa 1997-1998 mempelajari proses perlawanan dan agitasi untuk mensukseskan ‘perjuangan’ melawan “Rezim korup” dengan berkaca pada mahasiswa tahun 1960-an.

Apa akibatnya ?

Para pemerintah memiliki sejumlah jurnal pengalaman bagaimana menangani aksi-aksi demonstrasi. Karena para pejabat serigala berbulu domba sudah bica membaca pergerakan semacam itu, dimana ada celah yang tinggal menunggu kapan  dapat dimanfaatkannya.

Kenapa bisa-bisanya pergerakan itu bisa dimanfaatkan ?

Ayolah bung, think smart dikit lah.. Pejabat yang kau sebut brengsek itu adalah orang-orang yang melakukan aksi yang sama dengan yang kalian ingin lakukan sekarang. Cuma beda subjek, dia dulu jatuhin Bung Karno, sekarang kau pulak mau coba ke Pak Harto. Aku tau persis lah kalian mikir apa, setelah ini mau apa, bah kita ini sama.

Oleh karena itu, aksi ’98 disinyalir ditunggangi oleh banyak pihak.

Dimanfaatkan. Ditertawakan. Lucu.

Para mahasiswa tahun ’45 berjuang membangun pemerintahan dan sampai pada mahasiswa ‘60an menjatuhkannya. Kemudian banyak dari mereka yang bekerja di instansi pemerintahan dan dijatuhkan kembali oleh mahasiswa tahun ‘97-’98.

Dan sekarang, mahasiswa tahun 2010 – 2014, kita mau apa sekarang ?
 Masih belajar cara yang sama terhadap cara ’60-an, atau ’98 ?

Dahulu mereka dengan puitis nan kritisnya ‘membela’ yang tertindas dan ‘mengutuk’ korupsi. Kemudian menjadi melankolis menyangkal diri menutupi aib korupsinya. Hahahaha.


Menjadi aktivis yang belajar kebejatan para pejabat korup, kemudian menjadi bajingan selanjutnya ?
Seperti berbijak-bijak dahulu, bajingan kemudian ?

Benarkah keadilan itu ada ?
Benarkah korupsi adalah jiwa kita ? 
Benarkah mahasiswa berjuang untuk keadilan ?


Mahasiswa yang mengacungkan kepalan tangan untuk orang lain yang dianggapnya salah.
Namun beriak dalam saat dirinya di introspeksi orang lain sebagai gangguan

“ intervensi !  intervensi ! “ begitu katanya.
 “ Kita harus bergerak mandiri ! independen ! independen ! hidup mahasiswa ! “

Mahasiswa yang selalu berperan sebagai aktor kawakan protagonis, melawan pemerintah sebagai subyek antagonis. Terkadang peran antagonisnya berubah atau bertambah menjadi para pialang swasta di berbagai penjuru negeri. Bait-bait indah di lantunkan sebagai energi semangat penggerak cita-cita keadilan. Dengan segala istilah perjuangan diteriakan sebagai cahaya jatidiri.

Terdengar indah, bukan ?

Mahasiswa adalah para pahlawan perubahan. Atau setidaknya begitulah cita-cita euforia nya.
Pergerakan yang tak murni lagi di gencarkan ke setiap sudut-sudut masyarakat.

Cita-cita komprador-komprador asing terselip dalam pergerakan mereka. Untung-rugi. Membunuh atau dibunuh. Kawan-lawan. Meneriakan anti korupsi sambil mengais rezeki dalam program perjuangan kemahasiswaan nya.

Itukah keadilan kita ? sekecil kepalan tanganmu itu ?

Aktivis.
Benarkah kita sudah menjadi aktivis ?
Petarung perjuangan ?

Kalian lah aktivisnya, aku tidak !

Segalanya akan jelas terasa saat mereka menerima jalan masing-masing; semua tindakan yang kita ambil selalu ada konsekuensinya. Namun apakah idealismenya tetap ada padanya, atau telah rusak diperdaya para kriminil politik, lalu lenyap diperkosa nafsu pribadi ?

Saat pemuda kehilangan idealisme nya, Ia berjalan tanpa arah tujuan dan membiarkan dirinya dibentuk sesuai dengan apa yang ia lihat, rasakan, dengar, dsb.

Seperti para mahasiswa terdahulu, yang kehilangan idealisme-nya, dan menjadi para penjahat selanjutnya. Jargon yang mereka teriakan dengan bangga zaman dulu, kini hanya menjadi bahan tertawaan bagi generasi berikutnya.

Seorang yang bijak pernah berkata, idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang manusia. Mungkin menurutku dari idealisme tersebut nilai seorang manusia dapat diukur. Orang boleh mengubah-ubah pikirannya, namun jangan prinsip hidupnya !

Apakah orang lain dapat merasakan hal yang sama, saat melihat, mendengar dan merasakan semua ini ?

Aku hanya melihat ironi yang menggelitik logika kita, yang turut menghantam hati dan pikiran.
Suatu saat nanti, aku harap ada jalan…

Untuk masa depan yang pantas diperjuangkan, tanpa ketakutan, tanpa fanatisme golongan, tanpa kesenjangan, sampai semua orang pantas mendapatkan apa yang baik baginya.

Untuk itu, aku ada untuk menjaga idealisme hidup diri.

Aku adalah aku, tidak lebih dan tidak kurang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

T R A N C E - The Future of Music

Helloo ! I think there was very long time last I wrote my late article. Now I’m getting buzy, and everything is pulsing and there’s   fun ! after everything I do, I think now I’m gonna write about musical things. A genre, exactly. TRANCE ! It is a kind like beating music, but you know, if you listening kind of music from Hardwell songs, it’s very annoying if it’s not your type of music (but everyone have their own sense, too) but   if you listen this one, it’s sounds cozy, but still beatin’ and the most I love from trance IS, you can enjoy the music, love the beat, listen the sing (if exist) and dance with it without losing your mind. There’s one state that I love to hear it, A STATE OF TRANCE ! sounds cool, huh !? it’s mixed from some or more of music, synthesized and – wow ! sounds amazing. It’s Armin Van Buuren ’s works with his great team to makes a great music. He was made soo many music, which called an episode, A State of Trance 650, 611, 659, etc. A...

Cara Gampang Menjawab Soal Reading Bahasa Inggris

Tips Menjawab Soal-soal Reading Bahasa Inggris 1.    Untuk menacari pilihan Jawaban yg sesuai atau tidaknya dengan teks adalah memperhatikan masing-masing pilihan jawaban terlebih dahulu. 2.     Ketika muncul soal pertanyaan :”What does tell you about ?” menanyalan gambaran umum teks. Dan untuk dapat menjawab pertanyaan spesies ini harus menghafalkan jenis-jenis teks beserta ciri-cirinya . 3.    Untuk pertanyaan teks “Procedure” cermatilah saran sebagai berikut :         A) Memvisualisasikan/membayangkan tahapan-tahapan dalam teks. (ex: first, you need…/next, terminate the……)                                                     B) Memperhatikan kata sambung dalam te...